Senin, 26 Agustus 2013

Mimpi itu Masih Terbungkus dalam Kata "Seandainya"

          Kalau aku bicara tentang mimpi atau keinginan maka akan menjurus pada sebuah presepsi bahwa aku tidak pernah bersyukur. Sedihnya, cita-citaku sulit sekali tercapai. Aku pernah bermimpi ingin menjadi dokter, rasanya tidak mungkin dengan kondisi keuangan dan otakku yang sekadarnya saja ini. Bermimpi menjadi pramugari, juga tak bisa tercapai karena tinggi badanku yang 'semampai' semeterpun tak sampai. Pernah membayangkan aku menjadi seorang pelukis atau arsitektur, ternyata aku hanya seorang peniru, aku tidak pernah bisa membuat gambarku sendiri, aku hanya bisa menirukan karya orang lain, ditambah lagi untuk menjadi arsitek harus kuat dalam fisika tapi aku justru diinjak-injak olehnya. Selain itu, aku juga pernah berkhayal suatu saat ada sebuah buku dengan namaku tercantum di dalamnya sebagai sang penulis. Namun hingga saat ini, sebuah cerpen pun tak rampung-rampung. Mungkin, dulu aku pernah mengucapkan bahwa cita-citaku adalah guru, dan inilah satu-satunya cita-citaku yang terwujud, kini aku telah berada dalam prosesnya. Seharusnya aku mensyukuri ini namun seringkali ada suara dalam otakku mengatakan "Bukan ini yang aku mau", lalu aada suara lain lagi berteriak "jadi apa yang kau inginkan?!" Berhenti. Tidak ada tangggapan lagi. Suara teriakan itu hanya berputar-putar pada dua kalimat itu karena suara satu, juga tak tau apa yang sesungguhnya yang ia mau. 
          Untuk keinginan-keinginan kecil yanga aku kehendaki, ada yang terwujud ada yang belum. Aku tak berani mengatakan tidak karena mungkin aku masih bisa mewujudkannya. Aku berterima kasih pada Allah atas segala karuniaNya dan atas segala hal yang telah Ia kabulkan. Aku makhluk berdosa karena tidak ingat apa saja permintaanku yang telah Ia kabulkan. Justru hal yang aku ingat hanyalah yang belum dikabulkanNya. Namun aku masih ingat betapa senangnya aku saat keinginanku dikabulkan. Saat SMA aku sangat menginginkan sebuah laptop seperti teman-temanku. Karena alat itu mempermudah dalam tugas-tugas sekolah. Aku sangat ingin tetapi uang tabunganku tidak cukup untuk membelinya. Butuh minimal 5 juta untuk bisa memilikinya, namun sampai aku lulus SMA pun aku belum memilikinya. Allah tahu kapan Ia harus mengabulkan doaku. Ketika aku masuk kuliah, ibuku akhirnya membelikanku laptop karena memang diwajibkan dalam proses perkuliahan. Aku tak bisa mengungkapkan kesenanganku dalam kata per kata. Yang jelas aku bersyukur. 
          Hal-hal kecil yang aku inginkan itu seperti, aku punya sebuah piala, aku bisa bermain gitar, aku bisa berdagang seperti anak kos lainnya, aku bisa membuat orang tertawa, aku bisa bekerja dan begaul dalam sebuah organisasi dan juga punya banyak kenalan, aku bisa jalan-jalan jauh tanpa mabuk, yang paling penting, aku bisa tersenyum manis. Itu sedikit adalah keinginan-keinginan kecilku. Mungkin bagi orang lain hal itu mudah dilakukan, tapi orang lain tidak tau kendala apa yang aku alami singga membuat hal-hal kecil itu menjadi sulit dilakukan. Selain keinginan-keinginan kecil itu aku punya keinginan besar.
         Aku punya mimpi  membuat sebuah rumah besar untuk keluargaku. Bukan, bukan rumah besar tapi rumah sederhana yang memang bisa disebut sebuah rumah ideal. Sehingga adikku tidak perlu lagi menahan sakit untuk menahan malu. Sebuah rumah untuk keluargaku, itu mimpi besarku. Untuk menggapai mimpiku itu aku butuh sekitar Rp. 500.000.000,00 untuk sebuah rumah kecil di tahun 2013. Harga itu akan selalu naik setiap tahunnya, Sedangkan aku baru lulus kuliah sekitar 3 tahun lagi. Ahh, darimana aku bisa dapat uang sebanyak itu. Entahlah.
           Satu hal yang baru aku sadari saat ini, aku tidak tau apa keinginan ibuku. Ia tak pernah mengatakan apa keinginannya. Yang aku tahu, ia hanya ingin aku menjadi 'orang' punya pekerjaan yang layak. Hanya itu. Selain itu aku tidak tahu lagi. Dan baru hari ini pula aku tahu apa yang benar-benar diinginkan bapakku. Ia ingin pergi hati. Ya Allah, kapan aku bisa mewujudkan semua mimpi itu. Semuanya masih terbungkus dalam kata 'Seandainya'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar