Rabu, 16 Oktober 2013

Aku Memang Bukan Apa-Apa


      Sedih, sedih yang tak terdefinisi, hanya terasa begitu sakit, mungkin hanya mata yang mampu mengekspresikannya. Air mata ini jatuh dengan sendirinya, padahal aku tengah tertawa. Karena semuanya hanya kepura-puraan. Senyum ini, kebahagiaan ini, binar ini hanya sebuah tipuan, aku sakit, sungguh sakit dada ini sesak dan pikiran ini terus menghantam dengan berbagai pertanyaan keputusasaan. Setiap kaliamat, setiap cerita yang membuatnya gembira, terasa semakin menusuk bagiku.
      Apa yang salah? Kenapa? Aku harus bagaimana? Rasanya aku sudah berusaha yang terbaik, lalu apa lagi?Rasanya aku ingin menangis kencang dihadapan Tuhan, kenapa aku hanya selalu menjadi penonton, penonton kebahagiaan orang lain. Kenapa kesenanganku selalu dirampas orang lain. Bisakah aku merasakannya lebih lama lagi? Bisakah lebih lama lagi aku dibuat tersipu malu? Bisakah lebih lama lagi aku tak bisa jauh dari ponselku? Bisakah lebih lama lagi ponselku terus berdering? Bisakah? Aku ingin seperti mereka, yang merasakan senangnya terjatuh. Aku juga ingin merasakan betapa gugupnya ketika dia datang. Aku juga ingin merasakan bagaimana akrabnya sebuah obrolan yang tanpa henti. Aku ingin, sungguh sangat ingin. Kapan aku bisa merasakan itu? Kenapa selalu orang-orang disekitarku yang selalu mendapatkannya? bahkan mendapatkan apa yang paling aku dambakan.
      Aku baru mengerti rasanya sakit yang tertutupi senyum. Ketika aku hanya dibawa terbang perlahan, tidak tinggi dan tidak indah pemandangannya namun dia memegang tanganku, terasa seperti menjagaku, seperti melindungiku, Aku sangat bahagia meski tak memandang wajahmu, meski hanya merasakan genggaman tanganmu, Aku sudah sangat senang. Begini saja, aku ingin seperti ini saja berlansung lebih lama, hanya lebih lama tidak ada yang lain. Namun semua selalu berakhir sama, akhirnya aku selalu terbang sendiri tanpa pegangan. Dia pergi, terbang lebih tinggi, lebih jauh, bersama yang lain, bersama orang yang paling dekat denganku. Rasanya sangat menyakitkan melihatmu pergi bersamanya, dengan senyummu yang tak lepas dari wajahnya. Aku pun tak sanggup berada di belakang kalian, aku berhenti dan memilih terjatuh saja. Seringkali aku bertanya, aku ini siapa? Kenaa dia memperlakukan aku seperti ini? Jangan datang ketika kamu hanya singgah, karena kamu membuatku bahagia dan sakit di waktu yang bersamaan. Bahkan, aku harus berpura-pura senang ketika orang terdekatku bercerita tentang dirimu. Sakitnya sungguh bertubi-tubi. 
Hingga saat ini aku meyakini akan ada seseorang yang disiapkan untukku, orang yang bisa terus menggenggam tanganku dan tak berhenti tersenyum pada semua kelemahanku, namun aku mulai goyah akan kepercayaan itu. Aku ini siapa? Aku punya apa untuk mendambakan hal seperti itu? Aku tidak akan pernah dapatkan kebahagiaan seperti itu. Namun mulai saat ini aku tidak yakin lagi!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar