Jumat, 26 April 2013

Mungkin, Aku memanglah Keset

Aku anak perantauan. Aku hidup dan tinggal di Kalimantaap tidak bisa menn. Sebenarnya aku bukan anak Kalimantan asli. Aku lahir di Pati, di desa kecil, bagian dari Jawa Tengah. Tapi sekarang aku sedang menempuh pendidikan di luar Kalimantan. Provinsi besar katanya, Jawa.
 Aku masih anak baru disini. Sekarang aku masih anak semester dua. Selama, dua semester ini aku belum pernah pulang. Mereka (orang Jawa) bilang rumahku sangat jauh. Iya, bagi ku rumahku sangat jauh karena aku harus menempuh perjalanan satu hari satu malam di dalam kapal untuk bisa pulang. Tapi untuk beberapa temanku (yang sama-sama perantauan), mereka selalu tidak terima kalau

ada yang bilang Kalimantan itu jauh. Mereka merasa terhina, karena dianggap orang pedalaman. Bagi mereka Kalimantan itu memang dekat karena hanya perlu 45 menit untuk naik pesawat ke bandara tempat kota kami tinggal. Hal itulah yang membuat presepsi kami tentang jarak Kalimantan ke Jawa itu berbeda. Semua hanya berpusat pada Uang. Uang membuat semua hal dapat diliha dari berbagai macam prespektif. Karena itulah aku selalu bermimpi untuk memiliki uang. Banyak orang seakan menjadi raja dengan uang. Merendahkan orang lain, membentak  orang lain, mengatur orang lain dengan mudahnya karena memiliki uang. Aku sering melihat Ibuku direndahkan orang lain, tidak dihargai orang lain. Aku hanya ingin mengembalikan derajat Ibuku ke tempat paling nyaman tanpa suara melengking manusia manusia sombong itu. Aku ingin itu, aku ingin membungkang mulut mereka dengan hal yang paling mereka banggakan. Aku ingin menyandung mereka dengan hal yang selalu mereka pamerkan. Aku ingin, sangat ingin. 

Tapi aku seperti tidak pernah punya kesempatan untuk melakukan hal itu. Aku hanya sama seperti Ibuku, hanya seperti keset yang selalu dihina. Tanpa adanya perubahan, keinginan ini hanya menjadi dendam yang tak pernah terwujud. Aku tetap menjadi keset, keset yang lembut, yang nyaman untuk diinjak injak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar